Imam qiraat sab’ah adalah tujuh ulama besar yang menjadi rujukan utama dalam periwayatan cara membaca Al-Qur’an secara shahih dan mutawatir. Keberadaan mereka bukan sekadar tradisi akademis, melainkan bentuk nyata dari penjagaan Allah atas firman-Nya yang telah dijanjikan sejak empat belas abad lalu.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Salah satu bentuk pemeliharaan itu adalah lahirnya para imam yang meriwayatkan bacaan Al-Qur’an dengan sanad yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ.
Siapa Saja Imam Qiraat Sab’ah?
Tujuh imam qiraat sab’ah adalah ulama yang hidup pada abad kedua dan ketiga hijriah, tersebar di berbagai kota besar Islam. Masing-masing memiliki dua perawi utama yang meriwayatkan bacaannya secara langsung.
Berikut ketujuh imam beserta perawinya:
1. Imam Nafi’ al-Madani (w. 169 H) — Madinah Perawinya: Qalun dan Warsy
2. Imam Ibnu Katsir al-Makki (w. 120 H) — Makkah Perawinya: Al-Bazzi dan Qunbul
3. Imam Abu Amr al-Bashri (w. 154 H) — Bashrah Perawinya: Ad-Duri dan As-Susi
4. Imam Ibnu Amir as-Syami (w. 118 H) — Syam (Damaskus) Perawinya: Hisyam dan Ibnu Dzakwan
5. Imam Ashim al-Kufi (w. 127 H) — Kufah Perawinya: Syu’bah dan Hafsh
6. Imam Hamzah al-Kufi (w. 156 H) — Kufah Perawinya: Khalaf dan Khallad
7. Imam Al-Kisa’i (w. 189 H) — Kufah Perawinya: Al-Laits dan Ad-Duri
Mengapa Qiraat Hafsh dari Ashim Paling Banyak Dikenal?
Sebagian besar mushaf Al-Qur’an yang beredar di Indonesia dan dunia Islam saat ini menggunakan riwayat Hafsh dari Ashim. Ini bukan berarti riwayat lain kurang shahih, melainkan karena riwayat Hafsh menjadi yang paling luas penyebarannya secara historis, terutama setelah penyatuan mushaf di era Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dan perkembangannya di wilayah Kufah.
Seluruh qiraat sab’ah tetap shahih dan bersanad, karena memenuhi tiga syarat yang ditetapkan ulama: sesuai rasm mushaf Utsmani, sesuai kaidah bahasa Arab, dan diriwayatkan secara mutawatir.
Bagaimana Qiraat Sab’ah Diajarkan di Pesantren Tahfidz?
Pesantren tahfidz yang serius umumnya mengajarkan qiraat dari jalur yang paling umum terlebih dahulu, yaitu riwayat Hafsh, sebelum santri yang lebih mumpuni mempelajari riwayat-riwayat lainnya. Proses pembelajaran tidak cukup hanya dengan membaca buku, karena qiraat adalah ilmu yang harus diambil dari lisan guru ke lisan murid, persis seperti yang dicontohkan para imam terdahulu.
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
“Ambillah (bacaan) Al-Qur’an dari empat orang: dari Ibnu Mas’ud, Salim, Mu’adz bin Jabal, dan Ubay bin Ka’ab.” (HR. Bukhari no. 3808, Muslim no. 2464)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan pentingnya mengambil bacaan Al-Qur’an dari orang yang tepat, bukan sekadar belajar mandiri dari teks.
Bagi orang tua yang ingin anaknya menghafal Al-Qur’an dengan benar, memilih lembaga yang memiliki sanad keilmuan yang jelas adalah langkah awal yang sangat penting.
Jika hati Anda tergerak untuk ikut andil dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur’an, Pondok Tahfidz Qur’an Syekh Ali Jaber membuka pintu bagi para donatur yang ingin menjadikan sedekah ini sebagai amal jariyah yang terus mengalir. Setiap rupiah yang diberikan turut membantu santri belajar dari guru yang berkesinambungan sanadnya hingga Rasulullah ﷺ.
Warisan Ilmu yang Tidak Boleh Terputus
Keberadaan para imam qiraat sab’ah mengajarkan kita satu hal yang sangat berharga: ilmu Al-Qur’an bukan sekadar hafalan, tetapi perjalanan panjang periwayatan yang dijaga oleh ribuan ulama lintas zaman. Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk meneruskan estafet ini.
Itulah mengapa lembaga seperti Pondok Tahfidz Qur’an Syekh Ali Jaber hadir, untuk memastikan tradisi ilmiah ini tetap hidup dan terus melahirkan generasi yang tidak hanya hafal, tetapi juga memahami dan menjaga cara membaca Al-Qur’an dengan benar.
FAQ: Pertanyaan Seputar Imam Qiraat Sab’ah
Apa itu qiraat sab’ah?
Qiraat sab’ah adalah tujuh cara membaca Al-Qur’an yang diriwayatkan secara mutawatir melalui tujuh imam besar. Semua riwayat ini shahih dan diakui oleh para ulama Islam.
Apakah qiraat yang berbeda berarti isi Al-Qur’an berbeda?
Tidak. Perbedaan qiraat hanya menyangkut cara pengucapan, panjang-pendek, atau harakat tertentu pada kata, bukan perbedaan makna yang saling bertentangan. Semuanya telah disepakati oleh para ulama sebagai bagian dari kekayaan bahasa Al-Qur’an.
Mengapa kita perlu tahu tentang imam qiraat sab’ah?
Memahami siapa imam qiraat sab’ah membantu kita menghargai betapa seriusnya penjagaan ilmu Al-Qur’an dalam sejarah Islam. Ini juga menjadi bekal saat memilih pesantren tahfidz yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.
Apakah semua pesantren tahfidz mengajarkan semua qiraat sab’ah?
Tidak semua. Sebagian besar pesantren tahfidz fokus pada riwayat Hafsh dari Ashim terlebih dahulu. Pesantren yang lebih khusus dan memiliki guru bersanad dapat mengajarkan riwayat lainnya.
Bagaimana cara mendaftarkan anak ke pesantren tahfidz dengan sanad yang terpercaya?
Carilah lembaga yang gurunya memiliki sanad qiraat yang jelas, kurikulum terstruktur, dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Titipkan Anak Anda pada Penjaga Kalam Allah
Al-Qur’an adalah warisan terbesar yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita. Dan menjaganya dimulai dari memilih tempat yang tepat untuk belajar.
Pondok Tahfidz Qur’an Syekh Ali Jaber hadir sebagai rumah bagi para calon penghafal Al-Qur’an, dengan bimbingan guru yang bersanad, lingkungan islami, dan program yang dirancang untuk membentuk generasi Qur’ani dari dalam ke luar.
Daftarkan putra-putri Anda atau salurkan sedekah jariyah Anda melalui:
Website resmi: pendaftaran.ptqsyekhalijaber.com
WhatsApp Admin: +62 822-4033-4849
Semoga Allah jadikan langkah kecil kita hari ini sebagai sebab lahirnya para penjaga Al-Qur’an di masa mendatang.