Hari Tasmi' Al-Qur'an Internasional 2026, PTQ Syekh Ali Jaber Tekankan Pentingnya Menjaga Hafalan

Hari Tasmi’ Al-Qur’an Internasional 2026, PTQ Syekh Ali Jaber Tekankan Pentingnya Menjaga Hafalan

Pesantren Tahfidz Qur’an (PTQ) Syekh Ali Jaber akan menjadikan momentum Hari Tasmi’ Al-Qur’an Internasional pada Minggu, 30 Agustus 2026, sebagai sarana memperkuat kualitas hafalan seluruh santri. Melalui kegiatan ini, santri tidak hanya dituntut mampu menambah hafalan, tetapi juga menjaga ayat-ayat Al-Qur’an yang telah mereka hafalkan melalui tasmi’ dan murajaah secara berkelanjutan.

Hari Tasmi’ Al-Qur’an Internasional atau World Quran Recitation Day merupakan gerakan Al-Qur’an yang digagas Al-Azhar Mesir. Bagi PTQ Syekh Ali Jaber, momentum tersebut sekaligus menegaskan salah satu prinsip penting pendidikan tahfizh: hafalan yang baik bukan hanya banyak, tetapi harus terus dijaga hingga kuat dan mutqin.

Hari Tasmi’ Al-Qur’an Internasional Jadi Momentum Menguji Kekuatan Hafalan

Menghafal Al-Qur’an merupakan proses panjang yang membutuhkan konsistensi. Dalam proses pendidikan tahfizh, seorang santri tidak hanya berhadapan dengan target penambahan hafalan atau ziyadah, tetapi juga tanggung jawab menjaga hafalan yang telah diperoleh.

Tasmi’ menjadi salah satu metode penting dalam proses tersebut. Santri memperdengarkan hafalannya kepada guru atau penyimak sehingga kelancaran, ketepatan ayat, hingga bagian-bagian yang masih membutuhkan penguatan dapat diketahui.

Karena itu, pelaksanaan Hari Tasmi’ Al-Qur’an Internasional di PTQ Syekh Ali Jaber tidak dipandang sebatas kegiatan seremonial.

Kepala Divisi Taklim Yayasan Syekh Ali Jaber, Ustadz Zulkifli Tanor, mengatakan kemampuan menjaga hafalan justru menjadi salah satu tantangan terbesar bagi seorang penghafal Al-Qur’an.

“Menghafal Al-Qur’an membutuhkan kesungguhan, tetapi menjaganya membutuhkan keistiqamahan yang lebih panjang. Tasmi’ melatih santri untuk bertanggung jawab terhadap setiap ayat yang telah mereka hafalkan. Karena itu, kegiatan ini bukan hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga membangun disiplin dan kedekatan santri dengan Al-Qur’an,” kata Ustadz Zulkifli Tanor.

Dari Hafal Menuju Mutqin

Dalam pendidikan tahfizh dikenal istilah mutqin, yakni kondisi ketika hafalan telah kuat dan dapat dibaca kembali dengan lancar serta minim kesalahan.

Mencapai tahap tersebut membutuhkan proses yang tidak singkat. Santri perlu melakukan murajaah secara berulang, memperdengarkan hafalan kepada guru, memperbaiki kesalahan bacaan, serta membangun rutinitas bersama Al-Qur’an.

Tasmi’ membantu proses evaluasi itu berlangsung secara nyata. Ketika hafalan diperdengarkan dalam rentang bacaan yang panjang, santri dapat mengetahui bagian mana yang sudah kuat dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.

Hal tersebut menjadi penting karena tujuan pendidikan tahfizh bukan sekadar mengejar angka jumlah juz.

PTQ Syekh Ali Jaber mendorong para santri untuk membangun hubungan jangka panjang dengan hafalannya sehingga Al-Qur’an yang telah dipelajari tidak mudah hilang setelah target tertentu tercapai.

BACA JUGA: Rumus Menghafal Al-Qur’an yang Mudah Dipraktikkan dan Dijaga Konsistensinya

World Quran Recitation Day dan Semangat Menjaga Al-Qur’an

Semangat menjaga hafalan yang diterapkan di lingkungan PTQ Syekh Ali Jaber sejalan dengan gagasan World Quran Recitation Day yang diprakarsai Al-Azhar Mesir.

Gerakan yang dikenal dengan istilah Arab اليوم العالمي للسرد القرآني (Al-Yaum Al-‘Alami li Al-Sard Al-Qur’ani) tersebut dilaksanakan setiap 30 Agustus dan melibatkan para penghafal Al-Qur’an serta lembaga pendidikan dari berbagai wilayah.

Pada pelaksanaan sebelumnya, peserta dapat memperdengarkan Al-Qur’an secara keseluruhan ataupun sejumlah juz sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Momentum itu menjadi ruang bagi para penghafal Al-Qur’an di berbagai negara untuk menguatkan hafalan sekaligus menumbuhkan semangat murajaah.

Direktur Yayasan Syekh Ali Jaber, Syekh Al-Mustafa, mengatakan kegiatan tersebut juga dapat menumbuhkan kesadaran para santri bahwa perjuangan menjaga Al-Qur’an merupakan perjuangan yang dilakukan oleh Muslim di berbagai belahan dunia.

“Hari Tasmi’ Al-Qur’an Internasional ini menjadi momentum yang sangat baik untuk mengingatkan para santri bahwa mereka tidak sendiri dalam perjuangan menjaga Al-Qur’an. Para penghafal Al-Qur’an di berbagai negara memiliki semangat yang sama. Kami berharap momentum ini membuat santri semakin mencintai Al-Qur’an dan semakin kuat menjaga hafalannya,” ujar Syekh Al-Mustafa.

Menjadi Hafizh Adalah Perjalanan Panjang

Bagi seorang santri tahfizh, menyelesaikan hafalan tentu menjadi pencapaian penting. Namun, setelah itu terdapat tanggung jawab yang tidak kalah besar: mempertahankan hafalan tersebut.

Itulah sebabnya murajaah, tasmi’, dan pembinaan bacaan menjadi bagian penting dari keseharian pendidikan di pesantren tahfizh.

Melalui Hari Tasmi’ Al-Qur’an Internasional 2026, PTQ Syekh Ali Jaber berharap para santri semakin memahami bahwa menjadi hafizh bukan semata-mata tentang menyelesaikan 30 juz, tetapi membangun kebiasaan menjaga dan hidup bersama Al-Qur’an.

Kegiatan ini juga diharapkan semakin menumbuhkan kedisiplinan, keberanian, serta rasa tanggung jawab santri terhadap setiap ayat yang telah mereka hafalkan.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tahfizh tidak hanya terlihat ketika seorang santri mampu menyelesaikan hafalannya, tetapi ketika hafalan tersebut tetap terjaga dan terus menyertai kehidupannya.

Masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh proses pendidikan dan pembinaan para penghafal Al-Qur’an dapat mengikuti informasi terbaru melalui website resmi Pesantren Tahfidz Qur’an Syekh Ali Jaber di ptqsyekhalijaber.com.